Yayasan Pustaka Afaf
TADABUR SURAT An-Nuur Ayat 12
(Mukhlis Mukti Al Mughni)
لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًاۙ وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ
12. Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.”
Pesan dan Hikmah
- Ayat ini turun berkenaan dengan dialog Abu Ayyub Al Anshari dengan istrinya. Abu Ayub berkata kepada istrinya, “Jika kasus yang dialami Aisyah ini menimpamu bagaimana sikapmu?” Sang Istri menjawab, “Aku pasti malu melakukan itu, dan Aisyah itu lebih baik dari aku, karenanya mustahil Aisyah melakukan perbuatan yang digosipkan tersebut.” Lalu istrinyapun bertanya hal yang sama kepada Abu Ayub, “Bagimana jika kasus yang menimpa Sofwan juga dialami oleh kamu?” Abu Ayub menjawab, “aku malu melakkan hal tersebut, dan Sofwan itu lebih baik dari aku, pastinya mustahil dia melakukan apa yang digosikan tersebut.”
Beginilah seharusnya sikap orang beriman kepada Allah ketika menanggapi berita dan informasi buruk jangan disikapi dengan sangka buruk pula apalagi reaktif membenarkannya langsung tanpa ada tabayun (konfirmasi atau cek and recek). - اِفْكٌ مُّبِيْنٌ “(suatu berita) bohong yang nyata.“ kata ifk ini menunjukan kebohongan yang keji dan dahsyat. Bukan kebohongan biasa dan wajar. Karnanya ada bohong yang terpuji. Seperti bohongnya suami saat memuji istrinya. Bohongnya prajurit sebagai startegi perang. Bohong yang cantik dan strategis demi mendamaikan orang-orang yang berseteru.
****
Salam dari Masjid Cut Meutia
