Yayasan Pustaka Afaf
TADABUR SURAT An-Nuur Ayat 11
(Mukhlis Mukti Al Mughni)
ِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
11. Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).
Pesan dan Hikmah
- Ayat ini turun berkenaan dengan kasus berita bohong yang dihembuskan oleh kaum munafik di Madinah untuk merusak citra rumah tangga Rasulullah, dimana Aisyah dituduh berselingkuh dengan Sofwan bin Mu’athal.
- Gosip dan fitnah atau yang sejenisnya bisa saja terjadi dan dilakukan dari kalangan internal bahkan kawan sendiri, dan tidak selalu berasal dari lawan. Karenanya waspadai intrik-intrik jahat yang menyusup dan samar dengan tidak tergesa-gesa apalagi gegabah persis yang dilakukan dan disikapi oleh Rasulullah hingga beliau no coment sampai sebulan, hingga akhirnya wahyu ilahi turun menyucikan Aisyah RA.
- لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ “Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu.” Ternyata dalam kasus yang tidak mengenakanpun tiadak melulu menjadi masalah dan keburukan untuk kita. Terkadang dibalik berita buruk itu justru ada kebaikan, kesuksesan, kemudahan, keselamatan bahkan keuntungan. Karenanya yang terpenting bagaimana menyikapi masalah menjadi maslahah, dengan tetap sabar dan berbaik sangka. Kalimat ini sekaligus menjadi penghibur dan penguat untuk Rasulullah dan orang-orang beriman kala itu dengan jujur dan tulus atas kasus yang menimpa mereka.
- “Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).” Adanya kejahatan kolektif bukan berarte terbebas dari salah dan dosa pada setiap yang terlibat. Setiap orang atau pelakukanya yang terlibat akan mendapatkan dosa seukuran dengan peran yang dilakukannya. Dosa konseptor berbeda dengan dosa eksukutornya, begitu juga yang menjadi promotor dan donaturnya. Contohnya seperti kasus riba atau minuman khamer.
Rasulullah SAW bersabda:لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ
“Allah mengutuk minuman keras, peminumnya, pemberi minum (orang lain), penjualnya, pemerasnya, pengantarnya, yang diantar kepadanya, dan yang memakan harganya.” (HR. Abu Daud dan Hakim, melalui Ibnu Umar).
عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا
وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌDari Jabir Ra. ia berkata: “Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam telah melaknat orang-orang yang memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi makan hasil riba), orang yang menuliskan, orang yang menyaksikannya, (dan selanjutnya Nabi bersabda), ‘mereka itu semua sama saja’.” (HR. Muslim).
- Jangan melihat dosa dari besar dan kecilnya saja, karena itu hanya akan membuat kita cendrung memilah-milihnya bahkan menjadi pembenaran jika hanya dosa kecil yang dilakukan. Namun lihatlah siapa yang kita durhakai dan maksiati dari dosa dan kejahatan itu, Dialah Allah yang Maha Kuasa melakukan segala sesuatu. Baru kemudian melihat objek dan efek dari dosa atau kejahatan kita.
****
Salam dari Masjid Cut Meutia
