Yayasan Pustaka Afaf
Tadabur Surat An-Nuur Ayat 51
(Mukhlis Mukti Al Mughni)
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
51. Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Pesan dan Hikmah
- Selama kita beriman dengan keinginan, kesadaran, dan pilihan sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun maka kita akan menghormati pilihan kita ini dengan cara menaati pilihan ini. Jika tidak ditaatinya maka kita mengangap bodoh keinginan dan pilihan kita ini.
- Beginilah kondisi orang yang beriman dengan benar dan jujur, Ketika mereka diajak untuk tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya mereka akan menjawabanya dengan, “kami siap mendengar dan siap menaati”. Sementara orang munafik menjawabya dengan , “Kami siap mendengar lalu kami langgar.”
- Jika kita perhatika alam sekitar sebenarnya semuanya berjalan sesuai dengan jalan yang ditetapkan Allah bukan dengan pilihan mereka, sekalipun asalnya diberikan pilihan terlebih dahulu, lalu memilih untuk dituntun dari awal, seperti di jelaskan dalam firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh,” (Al Ahzaab ayat 72).
- “Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Kunci keberuntungan ternyata ada pada iman yang diikuti dengan sikap jujur dan benar, sehingga jika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan sesuatu maka respon mereka adalah siap mendengar dan siap menjalani atau mematuhinya.
- Kata muflihuun asalnya adalah falaah yang juga berarti petani atau bertani. Seorang petani ketika membajak ladangnya dengan baik maka ladangnya akan memberikan keuntungan yang bisa dipanen oleh si petani. Itulah rahasia kata al falah atau keberuntungan dalam ayat ini. Jika tanah saja bisa memberikan keuntungan yang merupakan makhluk Allah, maka Allah yang menciptakan tanah tersebut, jauh lebih bisa memberikan keuntungan besar kepada manusia.
*****
Salam dari Masjid Cut Meutia
