Yayasan Pustaka Afaf
TADABUR SURAT An-Nuur Ayat 28
(Mukhlis Mukti Al Mughni)
فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فِيْهَآ اَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوْهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ لَكُمُ ارْجِعُوْا فَارْجِعُوْا هُوَ اَزْكٰى لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ
28. Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Pesan dan Hikmah
- Adab indah berikutnya saat bertamu adalah jika tidak ada penghuni atau pemilik rumah maka jangan sampai masuk ke rumah tersebut sampai benar-benar dapat izinnya atau yang mewakilinya seperti anaknya atau pembantunya, bisa juga satpamnya.
- Ingat saat kita bertamu yang ingin kita temui adalah tuan rumahnya bukan rumahnya. Inilah bedanya tamu dan pencuri. Tamu akan kembali pulang jika tidak ada tuan rumahnya. Sementara pencuri akan menyantroni rumah yang tidak ada penghuninya.
- Tuan rumah berhak untuk menerima tamu dan menolakanya. Karna jika dia sudah mengatakan “kembalilah” maka jangan mendesak untuk masuk. Demi menjaga perasaan tuan rumah dan menjaga pikiran kita. Karenanya sikap semacam ini jika kita lakukan maka dipuji dengan pernyataran “Itu lebih suci bagimu”.
- Jika sudah diperintahlan “pulanglah” atau “kembalilah” namun tetap ingin masuk maka akan timbul keraguan dan kecurigaan yang berbuntut masalah. Karena bagian dari menghargai tuan rumah adalah menuruti permintaannya.
- Ayat ini ditegaskan dengan penyataan “dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Sebuah isyarat yang mengingatkan sekaligus mengancam kita bahwa Allah Maha Tahu dengan apa yang kita kerjakan, bahkan motif dan niatnya pun sudah diketahuinya, sebelum pekerjaan itu dilakukan.
- Perintah dalam ayat ini agar kembali atau pulang saat tuan rumah meminta demikian, adalah demi melindungi niat baik dan reputasi kita dari perbagai persangkaan negatif.
****
Salam dari Masjid Cut Meutia
