Blog

Tadabur Surat An-Nuur Ayat 23
Berita Hikmah

Tadabur Surat An-Nuur Ayat 23

Yayasan Pustaka Afaf
TADABUR SURAT An-Nuur Ayat 23
(Mukhlis Mukti Al Mughni)

اِنَّ الَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ الْغٰفِلٰتِ الْمُؤْمِنٰتِ لُعِنُوْا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

23. Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar,

Pesan dan Hikmah

  1. Di ayat sebelumnya dikaitkan soal rezeki dengan kasus penyebaran isu dusta. Karena setiap konflik yang memungkinkan terjadi permusuhan terkadang berpengaruh kepada soal rezeki. Sementara rezeki itu ada dalam jaminan Allah. Sehingga wajar di ayat sebelumnya Abu Bakar dikaitkan dengan kepemilikan rezeki yang membuatnya berkuasa atas rezekinya Misthah. Namun orang beriman akan selalu ingat bahwa Allah lah Pemilik rezeki sebenarnya. Al Qur`an mengajarkan kita melihat sisi lain dari pengaruh dari sebuah konflik terkadang berefek pada ekonomi.

     

  2. Pada ayat ini fokus kembali kepada topik ayat tentang dosa menuduh zina kepada wanita baik. Muhshanat disini dipahami pada tiga type wanita; pertama, wanita yang telah bersuami. Kedua, wanita yang belum menikah tapi selalu menjaga kehormatannya, ketiga; wanita merdeka, karena prostitusi dan perzinahan kala itu sering terjadi dikalangan budak wanita.

     

  3. Adapun arti ghaafilat disni adalah yang masih belia, remaja polos dan tidak tahu tentang pernikahan dan hubungan suami istri apalagi kasus perselingkunan. Artinya kenapa wanita semacam ini sampai harus menanggung tuduhan zina sementara dia tidak pernah ada pikiran tentang hal itu.

     

  4. Orang yang menuduh wanita ghaafilat semacam ini akan mendapatkan laknat di dunia dan akhirat. Artinya jauh dari rahmat Allah. Apa nikmatnya hidup jika tidak mendapatkan rahmat Allah.

     

  5.  وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ “dan mereka akan mendapat azab yang besar”. Ada banyak sifat azab Allah. Terkadang aliim (menyakitkan), muhiin (menghinakan), dan di sini dengan ‘azhiim (yang besar). Tentu perbedaan sifat azab ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan dosa dan pelakunya. Yang jelas azab di ayat ini dipahami lebih dahsyat dari sekedar sakit dan menghinakan.

****
Salam dari Masjid Cut Meutia