Sejarah Kurban dalam Islam
MASJID CUT MEUTIA | Allah memberi kesempatan pada umatnya untuk lebih mendekatkan diri padaNya dengan cara berkurban. Kurban juga menjadi bagian dari rasa syukur manusia pada Allah atas segala nikmat yang diberi olehNya.
Sejarah Kurban Nabi dan Para Sahabat
Menyembelih hewan kurban juga menjadi bentuk kepasrahan pada Allah dan simbol ketakwaan serta kecintaan padaNya. Untuk mendekatkan diri pada Allah maka manusia harus dapat mengharap ridhaNya.
Para nabi juga sudah diperintahkan berkurban mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Inilah sejarah kurban para nabi di zamannya yang perlu diketahui:
Kurban di Zaman Nabi Adam
Diawali dengan adanya perselisihan antara anak Nabi Adam dan Siti Hawa yang bernama Habil dan Qabil.
Habil lahir kembar dengan Labuda dan Qabil lahir kembar dengan Iqlima, kemudian sesuai perintah Allah Habil harus menikahi Iqlima dan Labuda harus menikah dengan Qabil. Sehingga mereka tidak boleh menikah dengan pasangan kembarnya.
Namun Qabil menolak hal itu karena ia beranggapan Iqlima lebih cantik dari Labuda. Perselisihan tersebut akhirnya ditengahi dengan perintah dari Allah, yaitu persembahan kurban dari Habil dan Qabil untuk syarat menikah.
Kurban siapa yang nantianya akan diterima oleh Allah maka ia berkah menentukan pasangan menikahnya.
Kurban Qabil yang Tidak Diterima oleh Allah
Saat itu Habil hidup sebagai seorang penggembala, lalu ia pun mempersiapkan domba jantan dan membawanya ke atas bukit. Sedangkan Qabil membawa hasil taninya yang paling jelek untuk dikurbankan.
Mereka berdua akhirnya menunggu, kurban siapa yang akan diterima oleh Allah. Tidak lama kemudian muncul api dari atas bukit kemudian melahap kurban kambing milik Habil sedangkan milik Qabil masih utuh.
Hal itu menunjukkan bahwa kurban Habillah yang diterima oleh Allah dan kurban Qabil tidak diterima. Dari cerita sejarah ini, dapat disimpulkan bahwa apa yang kita kurbankan pada Allah harus dengan niat untuk ibadah dan berharap ridha dari Allah.
Kurban di Zaman Nabi Ibrahim
Sejarah kurban pada zaman Nabi Ibrahim sudah banyak didengar, dan menjadi salah satu cerita awal kurban yang sebenarnya. Semuanya diawali dengan wahyu dari Allah untuk Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan anaknya yaitu Nabi Ismail sebagai kurban.
Hal itu tentu menjadi hal yang lebih berat bagi Nabi Ibrahim yang sudah menunggu kehadiran buah hati sejak lama. Namun Nabi Ibrahmin tetap berprasangka baik pada Allah dan meyakini kebesaran Allah SWT.
Bahwa memang semua ini berasal dari Allah dan untuk kebaikan Nabi Ibrahim sendiri. Kemudian wahyu tersebut disampaikan kembali pada Nabi Ismail dan Nabi Ismail pun menerima perintah Allah dengan ikhlas.
Namun karena kebesaranNya, saat parang yang tajam akan menyembelih Nabi Ismail Allah menggantinya dengan seekor kambing yang besar.
Kurban di Zaman Nabi Muhammad
Syariat kurban terus berkembang, dari sejak zaman Nabi Adam hingga ke zaman Nabi Muhammad. Kemudian akan terus berkembang sampai sekarang dan sampai akhir zaman. Perintah kurban ini juga sudah diriwayatkan dan diabadikan di dalam Al Quran.
Nabi Muhammad pernah berkurban dua ekor kambing yang berwarna putih dengan tanduknya yang besar. Nabi Muhammad melaksanakan kurban ketika melaksanakan Haji Wada yang dilaksanakan di Mina.
Rasulullah berkurban 100 ekor unta lalu disembelih sekitar 63 ekor dengan menggunakan tangannya sendiri. Sisa unta yang lain disembelih oleh Ali Bin Abu Thalib dan keseluruhannya disembelih setelah usai shalat Idul Adha.
Kurban di zaman Nabi Muhammad menjadi sejarah kurban yang sempurna, dan terus dilakukan hingga saat ini oleh umat Islam di seluruh dunia.
Berkurban Sebagai Bentuk Syukur
Hukum kurban bagi yang mampu dibagi menjadi dua jenis, menurut pendapat dari sejumlah ulama yang berlainan. Namun dibalik semua itu, pahami dahulu bahwa berkurban adalah bentuk atau bagian dari rasa syukur.
Ibadah kurban menjadi salah satu bukti cinta kepada Allah SWT. Seperti kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim yang berdasarkan kecintaanNya pada Allah. Anak yang selama puluhan tahun ditunggunya harus rela dikorbankan.
Ibadah kurban juga menjadi aplikasi cinta dari seorang hamba kepada Allah dan bukti ketakwaan pada Allah, atas semua nikmat yang telah diberikanNya. Semakin tinggi rasa yakin kita kepada Allah maka semakin ringan juga kita melakukan ibadah atau perintah dari Allah.
Semakin melimpah juga amal baik yang dilakukan karena keyakinan kita kepada Allah. Tapi jika keyakinan pada Allah berkurang maka sikap manusia akan pelit dan perhitungan atas apapun yang diperintahkan olehNya.
Kurban tidak sekadar penyembelihan hewan dan pembagian daging kurban untuk sesama saja. Tapi lebih dari itu, qurban juga sebuah dimensi sosial bagi para fakir miskin yang jarang merasakan kenikmatan daging kurban.[]
