Blog

Tadabur Surat An-Nuur Ayat 47
Berita Hikmah

Tadabur Surat An-Nuur Ayat 47

Yayasan Pustaka Afaf
Tadabur Surat An-Nuur Ayat 47
(Mukhlis Mukti Al Mughni)

وَيَقُولُونَ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَآ أُو۟لَٰٓئِكَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ

47.Dan mereka (orang-orang munafik) berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul (Muhammad), dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman.

Pesan dan Hikmah

  1. Senada dengan ayat ini bisa kita lihat dalam surat An-Nisaa` ayat 61, “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” Inilah karakter orang munafik. Kepribadiannya ganda dan bermasalah.

     

  2. Ciri orang munafik menyembunyikan sifat aslinya yang buruk (kafir) dengan bungkus kebaikan (keislaman). Orang munafik lebih dari sekedar berani berdusta, karena hatinya kafir namun lisannya beriman.

     

  3. Sikap munafik tidak jujur terhadap dirinya sendiri, maka bagaimana dia bisa jujur
    dan harmonis kepada orang lain. Kemuliaan manusia itu terbentuk jika dia jujur terhadap dirinya dan mampu mengarahkannya kepada kebaikan dan ketaatan. Jika berbuat kebaikan karena orang lain maka sesungguhnya orang lain tidak selalu bersamanya, berbeda dengan diri dan jiwa ini, dia selalu bersama dengannya maka jujurlah terhadap diri sendiri.

    Seperti dinyatakan dalam sabda Rasulullah,

    “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (dosa) akan menggelisahkan
    jiwa.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

     

  4. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisaa ayat 60), artinya sikap orang munafik terbongkar oleh prilakunya sendiri.

     

  5. Orang kafir lebih baik dari orang munafik jika ditinjau dari segi karakternya atau mentalnya yang selaras antara hati dan lisannya. Hati dan lisan orang kafir itu
    sejalan. Berbeda dengan orang munafik antara hati dan lisannya selalu berbeda dan bertolak belakang. Sehingga wajar jika orang munafik disiksa di kerak bawah neraka.

     

  6. Ayat ini setidaknya mengisyaratkan ada orang-orang yang tidak bisa kita nilai
    hanya berdasarkan ucapannya saja, seperti dijelaskan dalam surat Al Munaafiquun ayat 1, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” Mereka berkata jujur beriman, namun Al Qur`an mendustakan kejujuran mereka.

     

  7. Orang munafiq hatinya tidak ridha dengan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul- Nya. Kisah orang munafik yang mengadukan atau memprotes hukumnya Rasululah kepada orang Yahudi, lalu kepada Umar yang akhirnya ditunjukkan pedang oleh umar, menjadi jelas ketidak relaan mereka terhadap hukum Allah dan Rasul-nya.

     

  8. Dalam ayat ini mereka mengatakan kalimat yang indah “kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” namun perilaku mereka justru menentang keimanan. Padalah ucapan iman harus dibuktikan dengan perbuatan. “Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman.”

*****
Salam dari Masjid Cut Meutia