Yayasan Pustaka Afaf
Tadabur Surat An-Nuur Ayat 39
(Mukhlis Mukti Al Mughni)
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
39. Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Pesan dan Hikmah
- Perbedaan jelas antara orang beriman dan kafir. Sekalipun mereka semua beramal shalih di dunia, namun bagi orang kafir balasan atas amal shalih mereka hanya kontan di dunia pula. Sementara di akhirat hanyalah fatamorgana belaka. Mereka shok dan kaget ternyata amal shalih mereka selama ini salah niat dan tujuan, tuhan yang mereka sembah ketika di dunia itu ternyata tidak ada di akhirat. Adapun orang beriman akan mendapatkan kepastian balasan atas amal shalihnya karena dilandaskan pada iman atau ikhlas karena Allah, Tuhan yang Hak lagi berkuasa di dunia dan akhirat.
- Dalam ayat ini disebutkan setidaknua dua kerugian yang didapatkan oleh orang kafir kala itu; pertama, akan merasakan dahaga tidak berkesudahan, dan kedua adalah ketetapan siksa Allah.
- Dalam interaski sosial sebagai orang beriman tetap harus menghargai amal shalih orang kafir terlebih yang memberikan manfaat dan kebaikan bagi sesama. Karenanya interaksi kita dengan mereka dilandaskan pada asas manfaat kemanusiaan dan jangan dipandang perbedaan keyakinannya. Karena keyakinan dalam hati ini masuk wilayah pilihan mereka dan tanggung jawab mereka, serta hanya Allah yang berhak menilai dan memutuskan status mereka.
- Jika orang kafir tidak mendapatkan balasan kebaikan di akhirat karena faktor iman yang berbeda, maka muslim atau mukmin pun statusnya bisa sama dengan mereka jika dalam amal shalihnya bukan ikhlas karena Allah, seperti mencari pujian, materi, jabatan, popularitas dan hal duniawi lainnya. Kaum beriman akan menjadaikan Allah tujuan dan motifasinya dalam beramal shalih sekalipun kebaikan itu untuk manusia atau pulan lainnya tetap harus dilakukan kerena Allah. Seperti dijelaskan dalam hadits Shahih. Juga perumapaan Al Qur`an atas orang berinfak karena riya, Al Baqarah ayat 24.
- Tidak ada amal manusia yang luput dari penghisaban Allah. Sebuah penghisaban yang sangat sempurna, bukan penghisaban biasa. Dalam sebuah hadits dinyatakan, bahwa yang halalnya akan dihisab, sementara yang haramnya di siksa. Sehingga wajar jika Sayyidina Umar berpesan, “Hisablah atau evaluasi dirimu sebelum engkau dihisab Allah.”
- “dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” Kecepatan penghisaban yang tidak disibukkan dengan hal-hal lain. Jangan merasa masih jauh dari kematian dan hari kebangkitan. Waktu antara kematian dan kebangkitan adalah waktu yang relative cepat perhitungannya tanpa dirasakan, serba tahu-tahu dan mendadak. Kematian adalaha rahasia Allah, baik sebab maupun waktunya. Disembunyikannya rahasia kematian ini agar kita selalu ingat beramal untuk kehidupan akhirat.
*****
Salam dari Masjid Cut Meutia
