Nusron Wahid Tausiah di Masjid Cut Meutia Bahas 4 Sifat Manusia
MASJID CUT MEUTIA | Jakarta — Dalam ceramah Ramadan bertema “Bukan Lapar, tapi Latihan Taqwa”, Nusron Wahid adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Indonesia menekankan bahwa ibadah puasa tidak boleh dipahami sebatas menahan haus dan lapar. Ceramah tersebut disampaikan di Masjid Cut Meutia pada Jumat, 20 Februari 2026, dan dihadiri oleh ratusan jamaah dari berbagai kalangan.
Dalam tausiyahnya, Nusron Wahid mengutip pemikiran Abu Hamid al-Ghazali yang termaktub dalam karya monumental Ihya’ Ulumuddin. Ia menjelaskan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat empat sifat dasar yang saling tarik-menarik dan memengaruhi perilaku sehari-hari.
“Sifat-sifat ini selalu berinteraksi dalam diri manusia. Ramadan hadir sebagai momentum untuk menata ulang keseimbangan di antara sifat-sifat tersebut,” ujar Nusron.
Empat sifat yang dinukil dari Ihya’ Ulumuddin itu, menurut Nusron, pertama adalah sifat bahimiyah atau hawaniyah, yakni kecenderungan kehewanan dalam diri manusia. Sifat ini muncul ketika manusia hanya mengikuti hawa nafsu, mengejar kenikmatan jasmani tanpa kendali nilai moral dan spiritual.
Kedua, sifat sabu’iyah, yang diibaratkan seperti binatang buas. Sifat ini mendorong manusia untuk saling memangsa, tidak mau berbagi, serta menempatkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. “Ini watak yang membuat manusia sulit empati dan enggan berbagi,” jelasnya.
Ketiga, sifat syaitoniyah, yaitu kecenderungan manusia yang selama sebelas bulan di luar Ramadan sering dihinggapi bisikan nafsu setan. Watak ini, kata Nusron, mendorong manusia bersikap culas, licik, dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan pribadi.
Adapun sifat keempat adalah sifat malakiyah, yang dinisbatkan pada karakter malaikat. Dalam Al-Qur’an, malaikat digambarkan sebagai makhluk yang selalu taat kepada Allah dan tidak pernah sombong. Sifat inilah, menurut Nusron, yang paling kuat dimunculkan pada bulan suci Ramadan.
“Ramadan adalah bulan latihan untuk menghidupkan sifat malakiyah dalam diri kita,” katanya. Ia menambahkan bahwa puasa menjadi sarana untuk menghancurkan “virus-virus” sifat negatif yang selama ini bercokol dalam diri manusia.
Tidak makan dan tidak minum di siang hari, lanjut Nusron, bukan sekadar ritual fisik, melainkan simbol pengendalian diri. Dengan menahan kebutuhan paling dasar, manusia diajak untuk menundukkan sifat bahimiyah, meredam sifat sabu’iyah, dan melemahkan pengaruh sifat syaitoniyah. Pada saat yang sama, Allah memunculkan dan menguatkan sifat malakiyah dalam diri orang-orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh.
“Puasa itu latihan keseimbangan. Bukan sekadar lapar, tapi proses spiritual agar manusia kembali pada fitrahnya sebagai makhluk yang bertaqwa,” tegas Nusron menutup ceramahnya.
Ceramah tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi umat Islam bahwa Ramadan adalah momentum transformasi diri, dari dominasi hawa nafsu menuju penguatan nilai ketaatan, kerendahan hati, dan kepedulian sosial.
