Blog

Menanti Takbir Tarawih, Syahdunya Malam Ramadan di Masjid Cut Meutia
Berita

Menanti Takbir Tarawih, Syahdunya Malam Ramadan di Masjid Cut Meutia

MAJID CUT MEUTIA | Malam perlahan turun di kawasan Menteng, dan halaman Masjid Cut Meutia kembali dipenuhi langkah-langkah yang datang dari berbagai penjuru.

Setelah hiruk-pikuk berbuka puasa mereda, suasana berganti menjadi lebih teduh. Orang-orang masih berlalu-lalang di tangga depan masjid, sebagian membawa sajadah, sebagian lagi menenteng sandal. Di bawah langit Jakarta yang gelap, bangunan putih bergaya kolonial itu berdiri anggun, diterangi sorot lampu yang memantulkan warna hangat pada dindingnya.

shalat tarawih di masjid cut meutia

Tangga besar di bagian depan menjadi titik temu. Jamaah duduk berderet, ada yang sekadar menunggu waktu Isya, ada yang memeriksa ponsel, ada pula yang larut dalam obrolan santai. Tenda-tenda kecil di sisi halaman masih ramai oleh aktivitas, meski tak seramai saat menjelang magrib. Beberapa panitia tampak membereskan sisa kegiatan buka puasa, sementara jamaah lain mulai bergerak masuk ke dalam ruang utama masjid.

Memasuki interior masjid, suasana berubah drastis. Riuh percakapan di luar berganti dengan ketenangan yang terasa lebih dalam. Ruang utama Masjid Cut Meutia menampilkan langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal yang berkilau.

Cahaya dari chandelier memantul pada ornamen kaligrafi di dinding mihrab, menciptakan kesan megah sekaligus syahdu. Karpet biru gelap membentang rapi, menjadi tempat jamaah duduk bersila menunggu waktu salat Isya dan Tarawih.

shalat tarawih di masjid cut meutia

Jamaah terus berdatangan. Barisan saf perlahan terisi. Ada pegawai kantoran dengan kemeja yang masih rapi, ada bapak bersama anaknya, ada para ibu di barisan samping, ada anak muda dengan ransel yang disandarkan di sampingnya.

Sebagian membaca Al-Qurโ€™an, sebagian lagi menunduk khusyuk dalam doa. Sesekali terdengar suara pelan orang berzikir, menyatu dengan dengung pendingin ruangan dan langkah kaki yang berusaha pelan agar tak mengganggu.

Di bagian belakang, beberapa jamaah memilih duduk bersandar pada pilar-pilar besar. Wajah-wajah tampak lelah setelah seharian beraktivitas dan berpuasa, tetapi ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Ramadan memang menghadirkan ritme berbeda. Malam terasa lebih hidup, lebih panjang, dan lebih bermakna

Menjelang Isya, ruang utama hampir penuh. Jamaah yang datang belakangan mulai mencari celah kosong di antara saf. Petugas masjid dengan isyarat tangan mengarahkan agar barisan dirapatkan. โ€œLurus dan rapatkan saf,โ€ seru seorang petugas dengan suara tenang.

Setelah salat Isya ditunaikan, suasana hening sejenak sebelum Tarawih dimulai. Sebagian jamaah tetap berdiri untuk melanjutkan salat sunah, sebagian lagi duduk mengambil napas, mempersiapkan diri untuk rangkaian rakaat yang akan dijalani. Bagi banyak keluarga, momen Tarawih di Masjid Cut Meutia bukan sekadar ibadah, melainkan tradisi yang diwariskan dari tahun ke tahun.

Ketika imam takbir pertama Tarawih dikumandangkan, seluruh ruang seketika tenggelam dalam kekhusyukan. Ratusan jamaah berdiri serempak, membentuk saf yang panjang hingga ke bagian belakang ruangan. Bacaan ayat suci menggema, memenuhi setiap sudut bangunan bersejarah itu.

Di luar, halaman masjid mulai lebih lengang. Lampu-lampu tetap menyala, menerangi tangga dan pepohonan di sekitarnya. Namun pusat kehidupan malam itu kini berada di dalam, di antara saf-saf yang tersusun rapi dan doa-doa yang terangkat ke langit.

Malam di Masjid Cut Meutia bukan hanya tentang keramaian Ramadan, tetapi juga tentang jeda. Tentang orang-orang yang berhenti sejenak dari rutinitas kota untuk berdiri bersama, menundukkan kepala, dan mencari ketenangan.

Di tengah gemerlap Jakarta Pusat, masjid ini menjadi ruang pulang, tempat hati menemukan sunyi di antara ratusan langkah yang datang dengan tujuan yang sama. Allahuakbar.