Blog

Cahaya “Ramadan Kareem” di Jantung Jakarta, Kemeriahan Buka Puasa di Masjid Cut Meutia
Berita

Cahaya “Ramadan Kareem” di Jantung Jakarta, Kemeriahan Buka Puasa di Masjid Cut Meutia

MASJID CUT MEUTIA | Langit Menteng berangsur gelap ketika cahaya lampu mulai mendominasi halaman Masjid Cut Meutia. Di antara pepohonan tua yang menaungi kawasan itu, lampu-lampu hias berbentuk bulan sabit, bintang, dan lentera menggantung berpendar hangat.

Warna kuning keemasan dan biru neon bertuliskan “Ramadan Kareem” menyala terang, seolah menjadi penanda bahwa malam di bulan suci telah benar-benar tiba.

Suasana Menjelang Magrib yang Hidup

Sejak sore, halaman masjid sudah dipenuhi aktivitas. Tenda-tenda kecil bazar berjejer rapi di sisi pelataran. Aroma gorengan dan aneka hidangan berbuka menyatu dengan semilir angin malam khas Jakarta.

masjid cut meutia

Anak-anak berlarian kecil di sela kerumunan, sementara para orang tua duduk berbincang menunggu waktu magrib. Ada yang memegang kantong takjil, ada pula yang sibuk mengabadikan momen dengan ponsel mereka di depan dekorasi lampu yang instagramable.

Keanggunan Masjid Bersejarah dan Khidmatnya Berbuka

Bangunan masjid yang dulunya merupakan kantor arsitektur peninggalan kolonial itu tampak anggun dalam balutan cahaya. Dinding putihnya memantulkan sorot lampu, menciptakan kesan syahdu sekaligus meriah. Tangga di bagian depan dipenuhi jamaah yang keluar masuk, sebagian hendak mengambil air wudu, sebagian lagi mencari tempat duduk untuk berbuka bersama.

Azan berkumandang, suasana nampak bahagia. Para jamaah menikmati hidangan pembuka berupa kurma dan air mineral yang dibungkus plastic. Shalat Maghrib berjamaah pun berlangsung khidmat penuh harapan doa.

Berbagi Kebahagiaan Nasi Kotak Setiap Malam

Di sudut pelataran, tumpukan kotak makan tersusun tinggi. Setiap malam, panitia menyiapkan sekitar 1.000 nasi kotak untuk dibagikan kepada jamaah yang akan berbuka puasa. Kotak-kotak putih itu menjadi simbol kepedulian.

berbuka di masjid cut meutia

Malam itu, ratusan jamaah Nampak Bahagia menikmati hidangan nasi kotak untuk berbuka puasa. Menu berbuka malam itu sederhana namun menggugah selera: nasi putih hangat, ayam berbumbu, sayur, dan sambal yang menggoda.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya hidangan biasa. Namun di halaman masjid ini, di bawah cahaya lampu Ramadan, setiap suapan terasa istimewa. Ada rasa kebersamaan yang menguatkan, ada ikatan tak kasat mata yang menyatukan berbagai latar belakang.

Semarak Bazar dan Kesadaran Menjaga Kebersihan

Di sisi lain pelataran, suasana semakin semarak. Tenda-tenda bazar kecil menghadirkan aneka jajanan dan minuman. Anak muda mengantre membeli es dan makanan ringan, sementara keluarga duduk santai menikmati suasana selepas berbuka. Lampu hias berbentuk masjid dan kaligrafi menjadi latar favorit untuk berfoto.

Namun di tengah kemeriahan itu, kekhusyukan tetap terjaga. Selepas makan, jamaah bergegas merapikan tempat duduk dan membuang sampah pada tempatnya. Sebagian kembali mengambil wudu, bersiap menunaikan salat Isya’ dan dilanjutkan shalat taraweh berjamaah.

Oase Kebersamaan di Tengah Hiruk-Pikuk Ibukota

Ramadan di Masjid Cut Meutia bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah pertemuan berbagai cerita. Ada pekerja kantoran yang baru pulang dari pusat bisnis Jakarta, ada pengemudi ojek daring yang menyempatkan diri berbuka sebelum melanjutkan order, ada penduduk sekitar yang ingin menghidupkan Ramadhan di Masjid Cut Meutia. Semua duduk sejajar, tanpa memandang status sosial.

Di kota besar seperti Jakarta, momen seperti ini menjadi oase. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan gedung-gedung tinggi, Masjid Cut Meutia menghadirkan ruang jeda. Ruang untuk berbagi, untuk bersyukur, dan untuk merasakan hangatnya kebersamaan dalam satu saf.

Malam Ramadan pun berlanjut dengan penuh lantunan doa. Di bawah cahaya lampu “Ramadan Kareem” yang terus berpendar, satu hal terasa pasti, di sini, di jantung Menteng Jakarta Pusat, Ramadan dirayakan dengan hati yang penuh gembira. []